Thursday, 29 May 2014

Dallas Buyers Club, Film tentang HIV/AIDS Pemenang Oscar

MENONTON Dallas Buyers Club perhatian utama kita tentu saja pada laku dua bintangnya: Matthew McConaughey dan Jared Leto. 
Film ini memenangkan penghargaan Oscar 2014 untuk kategori Aktor Terbaik dan Aktor Pendukung Terbaik atas akting brilian McConaughey dan Leto. Maka, perhatian pertama penonton terutama pada akting keduanya. 
McConaughey dan Leto memang telah berakting maksimal di sini. Tengok saja tampang kurus McConaughey sebagai pesakitan penderita AIDS. Konon, demi peran ini McConaughey menurunkan berat badannya sampai 22 kilogram. Atau tengok juga Leto sebagai transgender pecandu sekaligus juga digerogoti AIDS. Kita dibuat lupa kalau Leto aslinya pria tulen.
Tapi tengoklah film karya Jean-Marc Vallee berdasar skenario Craig Borten dan Melissa Wallack ini dengan perspektif lain. Tidak sekadar suguhan akting jempolan pemain-pemainnya. 
AIDS mulai diidentifikasi di Amerika Serikat tahun 1981. Dulu penyakit ini banyak menjangkiti kaum gay. Sebutan umumnya pun belum AIDS, tapi "Gay Cancer" alias kankernya kaum gay. 
Dalam laporan utama majalah Newsweek saat AIDS "memperingati" ulang tahun ke-25, Maret 2010 silam, David J. Jefferson menulis artikel "How Aids Changed America" mengungkap, presiden AS kala itu, Ronald Reagan baru membuka wacana soal AIDS di forum publik empat tahun setelah epidemi AIDS, atau setelah 12 ribu warga Amerika meninggal akibat penyakit itu. (Reagan tak menyebut kata AIDS di panggung publik sampai tahun 1987.) 
Dulu, media massa juga malu-malu melaporkan soal AIDS. Berita soal AIDS di awal 1980-an hanya mengisi halaman-halaman dalam koran mainstream macam New York TimesNewsweekyang pertama memuat AIDS di sampul utama tahun 1983. Koran Wall Street Journal melaporkan soal penyakit AIDS di headline-nya tahun 1982 hanya setelah penyakit itu juga menjangkiti heteroksesual, bukan cuma kaum gay: NEW, OFTEN-FATAL ILLNESS IN HOMOSEXUALS TURNS UP IN WOMEN, HETEROSEXUAL MALES, tulis headline bulan Februari 1982 itu.
AIDS memang bukan penyakit biasa. Selain belum ada obatnya, penyakit ini awalnya menjangkiti orang-orang yang berperilaku seks di luar heteroseksual. Semula, AIDS dianggap aib besar ataupun kutukan akibat berperilaku tak sesuai kodrat. Tapi lambat laun, ketika makin banyak orang meninggal karena AIDS dan penyakit ini juga menyerang siapa saja, kesadaran akan bahaya AIDS dan upaya pencegahannya pun menjadi wacana nasional. 
Publik Amerika makin sadar akan wabah AIDS ketika di musim panas tahun 1985, Rock Hudson, bintang film yang dicintai publik AS, ketahuan seorang gay dan mengidap AIDS. Enam tahun kemudian, tahun 1991, seorang pebasket, olahragawan yang seharusnya sehat walafiat, seorang heteroseksual, Magic Johnson, mengumumkan kalau ia mengidap HIV positif, virus AIDS. "(Penyakit) ini bisa terjadi pada siapa saja, bahkan saya, Magic Johnson," kata bintang basket yang ketika itu usianya 32 tahun, sambil bilang setiap orang agar berperilaku seks aman.  
source: www.tabloidbintang.com

Thursday, 22 May 2014

Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak

Saat ini di Indonesia telah tersedia layanan Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PMTCT; Prevention Mother to Child Transmission) dimana layanan ini terdiri dari 4 (empat) tiang strategi/prong. Adapun 4 (empat) bagian dari PMTCT, yaitu :
1. Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia produktif.
2. Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada Ibu HIV.
3. Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya.
4. Memberikan dukungan psikologis, social dan perawatan kepada ibu HIV positif beserta bayi dan keluarga.
Keempat prong/strategi PMTCT tersebut dalam penerapannya tidak dapat dipisahkan atau tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.

Untuk mencegah penularan pada bayi, yang paling penting adalah mencegah penularan pada ibunya dulu. Harus ditekankan bahwa si bayi hanya dapat tertular oleh ibunya. Jadi bila ibunya HIV-negatif, PASTI si bayi juga tidak terinfeksi HIV. Status HIV si ayah TIDAK mempengaruhi status HIV si bayi.
source: www.odhaberhaksehat.org

Mitos Tentang HIV/AIDS

Ada banyak mitos yang berkembang berkaitan dengan penyakit HIV AIDS. Namun sayangnya mitos yang dipercaya tersebut tidak sepenuhnya benar. Padahal, Anda membutuhkan pemahaman yang baik berkaitan dengan penyakit ini.

Berikut adalah mitos tentang HIV AIDS dan juga kebenarannya yang harus Anda ketahui

Anda bisa terinfeksi HIV bila menghabiskan banyak waktu dengan penderita
Penelitian telah menunjukkan bahwa penyakit ini bahkan tidak akan menular melalui sentuhan, air mata, keringat, ataupun air liur. Jadi apabila Anda menghabiskan banyak waktu dengan penderita, maka Anda tidak mungkin akan tertular penyakit ini.

Tidak perlu menggunakan kondom apabila masing-masing pihak telah terinfeksi
Kondom tetap diperlukan bahwa apabila Anda dan pasangan telah terinfeksi penyakit ini. Sebab ada berbagai macam virus HIV AIDS dan Anda dapat menghindarinya dengan selalu menggunakan kondom saat berhubungan badan.

Penyakit HIV AIDS adalah akhir dari segalanya
Meskipun hingga saat ini dunia kesehatan belum menemukan obat yang manjur untuk mengobati penyakit ini, namun bukan berarti bahwa apabila Anda tertular penyakit ini maka itu adalah akhir dari segalanya. Seseorang yang telah terinfeksi HIV AIDS tetap dapat menjalankan kehidupannya dengan baik dan bermanfaat untuk orang lain.

Anda akan sehat apabila Anda terus-terusan mengonsumsi obat
Memang benar bahwa obat antiretroviral mampu memperpanjang usia penderita HIV AIDS namun obat ini juga dapat memberikan efek samping bagi kesehatan tubuh Anda.

Nyamuk membantu penularan HIV AIDS
Gigitan nyamuk dipercaya mampu menyebarkan virus ini. Namun hingga saat ini, belum ada penelitian yang dapat membuktikan mitos ini.

'Saya setia pada satu pasangan jadi tidak mungkin tertular'
Perilaku untuk selalu setiap pada satu pasangan memang baik. Namun Anda juga tidak mengetahui sejarah kehidupan seksual pasangan Anda. Oleh sebab itu tidak ada salahnya apabila Anda dan pasangan melakukan pemeriksaan kesehatan secara lengkap untuk pencegahan.

HIV AIDS tidak akan menular melalui seks oral
Jika Anda melakukan seks oral dengan orang yang telah menderita penyakit ini, maka Anda tetap bisa terinfeksi virus ini. Oleh karena itu dianjurkan bagi Anda untuk selalu menggunakan kondom bahkan juga saat melakukan seks oral.

Ada beberapa mitos yang berkembang tentang HIV AIDS dan mitos tersebut bisa saja memberikan pemahaman yang salah. Oleh karena itu pelajari dulu mitos-mitos tersebut dengan baik.

source: www.merdeka.com

FIlm Inspiratif Indonesia Tentang HIV/AIDS

Beberapa saat lalu, ada sebuah novel berjudul “Waktu Aku Sama Mika“. Novel ini berisikan catatan harian seorang gadis bernama Indi yang menderita skoliosis, lalu jatuh cinta pada seorang pemuda bernama Mika yang hidup dengan HIV. Mika dan Indi kemudian berpacaran. dalam hubungan mereka, Mika banyak mengajarkan kepada Indi, bahwa hidup dengan HIV (walaupun memang tidak mudah) memberikan makna kehidupan yang mendalam. Melalui bukunya, Indi yang adalah Sang penulis juga menggambarkan bahwa HIV tidak menular dengan mudah. tidak seperti virus Influenza atau Tubercolossis yang bisa melalui udara. Indi juga mengambarkan bahwa kita tidak boleh bersikap diskriminatif terhadap orang yang hidup dan terdampak oleh HIV AIDS.
Yang membanggakan adalah, novel ini kemudian diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar. Yup, film ini berhasil merebut hati remaja dan masyarakat Indonesia, yang menyampaikan secara langsung pesan moral besar tentang bagaimana agar remaja lebih membuka mata terkait informasi HIV dan AIDS yang masih sulit diakses di Indonesia, sehingga menimbulkan banyak persepsi dan informasi yang salah. Namun Indi, dengan tulus menceritakan dalam film ini, dia menggambarkan perkenalan antara Indi dan Mika memberikan banyak kebaikan. Kehadiran Mika dalam kehidupan Indi berhasil membuat ia bersemangat. Hari-harinya kembali diselimuti kegembiraan, setelah sebelumnya hidup Indi selalu dalam keadaan tertekan akibat skoliosis yang ada di tubuhnya. kehadiran Mika dalam kehidupan Indi perlahan membuat kondisi skoliosisnya semakin membaik. Besi penyangga tubuh (brace) yang awalnya dikenakan selama 23 jam setiap hari rupanya sudah bisa dilepas.

Di saat Indi mulai sembuh dari penyakitnya, namun tak demikian dengan Mika, HIV membuat kondisinya tubuhnya semakin lemah. Indi merasa sangat terpukul karena telah benar-benar merasakan ketulusan cinta dan kasih sayang Mika. Di mata Indi, Mika adalah malaikat tanpa sayap yang membangunkan ia dari mimpi gelapnya. Mika bagaikan pelita yang menerangi hidup Indi untuk terus maju. Puncak konflik dari film ini terjadi pada saat orang-orang di sekitar Indi tahu soal hubungannya dengan Mika yang hidup dengan HIV, dan Mika yang akhirnya kalah dalam perjuangan melawan penyakitnya dan meninggal dunia.

Nah, selanjutnya masih film yang bertema-kan tentang HIV dan AIDS, yang akan muncul di bioskop di seluruh Indonesia. Film berjudul “Cinta Dari Wamena” ini adalah sebuah film yang mengangkat kisah persahabatan, cinta, kehidupan remaja dan tentunya keindahan alam Papua. Film ini menceritakan perihal persahabatan pada 3 anak muda papua bernama LitiusTembi, serta Martha. Mereka bertiga mempunyai mimpi yang kuat untuk terus bersekolah. Bukan sekedar punya mimpi, dengan kemauan yang kuat mereka meneruskan pendidikan ke Wamena untuk dapat bersekolah gratis. Tetapi nyatanya banyak cobaan yang mereka hadapi di kota itu. Pola hidup kota Wamena tersebut menguji mimpi serta persahabatan ketiga remaja tersebut. Puncaknya saat salah seorang dari ketiga sahabat tersebut terkena virus HIV. Mampukah mereka bertahan disana, serta apa yang berlangsung pada persahabatan mereka.
Salut untuk seluruh penulis dan sineas di Indonesia yang mau dan berani mengangkat isu HIV dan AIDS ini ke masyarakat yang kemudian akan lebih mudah diterima oleh Masyarakat Indonesia, khususnya remaja di Indonesia. Semoga semakin banyak penulis atau pembut film yang menjadi perpanjangan tangan teman teman ODHA dalam menyampaikan pesan tentang sikap non diskriminatif yang harus mulai dibiasakan.

source: www.odhaberhaksehat.org

Film Tentang HIV/AIDS

Isu HIV dan AIDS telah menjadi isu global yang sampai sekarang belum ditemukan solusi penyembuhannya. Penyebaran HIV dan AIDS semakin hari semakin meluas dengan jumlah korban tiap tahunnya meningkat. Bertepatan dengan Hari AIDS sedunia yang jatuh pada hari ini, 1 Desember 2011, ada lima film yang kita temukan dan semua menceritakan tentang isu HIV AIDS ini. Di setiap film ini menyimpan cerita-cerita yang menarik dan dikait-kaitkan dengan banyak hal yang terjadi di seluruh belahan dunia. Berikut daftar 5 film AIDS yang pernah dirilis.
1. Philadelphia
Sebuah film drama mengenai HIV dan AIDS yang diperankan oleh Tom Hanks dan Denzel Washington. Film yang dirilis para tahun 1993 dan digarap oleh Jonathan Demme lebih mengedepankan isu HIV dan AIDS dan hubungannya dengan isu homoseksualitas yang marak terjadi pada masa itu di Amerika Serikat. Dikisahkan Andrew Beckett, seorang pengacara handal yang menyembunyikan sifat homoseksualitasnya dan AIDS dari bosnya yang sangat konservatif terhadap homoseksualitas. Suatu saat dirinya dipecat lantaran ketahuan mengindap AIDS dan bertarung di pengadilan untuk memperjuangkan haknya melawan penyakitnya dia sendiri. Kemudian, Andrew kemudian menyewa seorang pengacara bernama Joe Miller yang memang mempunyai ketakutan akan homoseksualitas dan dia harus mengatasi masalah tersebut demi membantu Andrew. Film ini kemudian banyak menerima pujian dan penghargaan macam Academy Awards untuk aktor terbaik karena sisi sosial yang diangkat sungguh menyentuh.

2. A Mother's Prayer
Film drama mengenai HIV dan AIDS lainya adalah A Mother's Pray. Film ini mengisahkan seorang janda yang didiagnosa mengidap AIDS berjuang tidak hanya untuk mengatasi ketakutan akan penyakitnya namun juga berjuang untuk menemuka sebuah keluarga yang dapat mengasuh anaknya yang berusia 8 tahun sebelum dirinya meninggal. Film ini dibuat berdasarkan sebuah kisah nyata. Dirilis pada tahun 1995 dan disutradari oleh Larry Elikann dan Dibintangi oleh Linda Hamilton, Kate Nelligan dan Bruce Dern, film ini masuk nominasi Golden Globe pada tahun yang sama.

3. Angels In America
Pada 2003, HBO merilis mini seri dengan Isu HIV dan AIDS dan homoseksualitas yang kembali diangkat dalam Angels In America. Dengan menyisipkan isu runtuhnya kekuasaan presiden Amerika Serikat, Ronald Reegan pada 1985 dan penyebaran epidemi AIDS di seluruh negara bagian Amerika Serikat, Angels In America mengisahkan seorang kepala biara bernama Walters yang mengindap HIV AIDS dan ditinggalkan sang istri, Lou setelah dia memberitahu Lou bahwa dia mengidap AIDS. Di lain cerita, seorang pengacara bernama Roy Cohn dan seorang tukang suap dari politik sayap kanan Amerika Serikat, Joe Pitt merupakan pasangan homoseksual yang mempunyai peranan penting di gedung putih. Di dalam cerita ini, banyak alur cerita percintaan yang rumit hingga ada sedikit adegan mistis saat Roy yang akhirnya didiagnosa mengindap AIDS didatangi oleh seorang hantu bernama Ethel Rosenberg, seorang komunis amerika yang dihukum mati dengan kursi listrik pada tahun 1953. Film ini diperankan oleh bintang seperti Al Pacino dan Marlyn Streep
4. Breaking the Surface : The Greg Louganis Story
Isu HIV dan AIDS juga merambah ke dalam dunia olahraga. Pada tahun 1997, sebuah film mengenai altlet lompat indah peraih medali emas di tiga Olimpiade antara lain 1984 dan 1988, Greg Louganis yang mendapati dirinya terjangkit virus HIV dan AIDS setelah mengetahui ayahnya adalah pengidap HIV AIDS. Dia diketahui mengidap HIV saat doktor melakukan test darah setelah Greg mendapat kecelakaan di bagian kepala karena terbentur papan lompatan. Dan saat itu pula, Greg mengaku dia seorang gay dan siap menjalani kehidupannya sebagai gay. Film yang dibintangi oleh Mario Lopez ini mendapat penghargaan dari ALMA Award.
5. And the Band Played On
Yang terakhir ada And the Band Played on. Sebuah film drama yang disutradarai oleh Roger Spottiswoode, didasarkan dari sebuah best-selling book berjudul And the Band Played On: Politics, People, and the AIDS Epidemic karya Randy Shilts. Film ini mengisahkan tentang dokter ahli penyakit epidemik, Don Francis yang berkunjung ke sebuah desa di sekitar daerah Ebola, Zaire pada tahun 1976 dan menemukan para penduduk dan dokter-dokter disana terjangkit penyakit misterius terkenal dengan nama demam berdarah Ebola. Don mengkhawatrikan penyebaran virus ini akan meluas dan dia yang penasaran dengan penyakit ini langsung membuat teori yang intinya menyatakan bahwa penyakit ini disebabkan oleh kegiatan seksual. Teori tersebut ditentang kaum gay dan mereka pun tidak mau dituduh sebagai biang keladi tersebarnya virus tersebut. Di sisi lain, para ilmuawan Perancis dan Amerika Serikat berdebat siapa yang pertama menemukan virus tersebut. dibintangi oleh Matthew Modine dan Alan Alda, ini merupakan film dengan adaptasi cerita tentang HIV AIDS terbaik karena mendeskripsikan pertama kali HIV AIDS ditemukan. 

source: www.hai-online.com