Thursday, 26 June 2014

PSK Positif HIV Tetap Melayani Pelanggan

Para pekerja seks komersial (PSK) yang postif HIV tetap melayani para pelanggannya. Namun, mereka diminta melakukan hubungan seksual yang aman dengan menggunakan kondom, agar penyakit yang menyerang kekebalan tubuh tersebut tak menular ke orang lain.

"Jika dipulangkan atau melarang mereka bekerja, justru melanggar HAM," kata fasilitator advokasi Yayasan Paramitra Malang, Marsikan, Rabu, 8 Januari 2013. Jadi, mereka tetap diizinkan bekerja dengan pengawasan ketat, seperti memastikan kondisi kesehatannya tetap stabil.

Marsikan yang mendampingi sejumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) menjelaskan jika para PSK memiliki kesadaran tinggi terhadap kesehatan reproduksi. Mereka rutin memeriksaan kesehatan reproduksi ke klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT). Pemeriksaan, kata dia, dilakukan secara terjadwal.

Di Kabupaten Malang, total jumlah PSK sekitar 340-an yang tersebar di sejumlah lokalisasi. Meliputi lokalisasi Suko dan Slorok di Kecamatan Sumberpucung, Gondanglegi, Ngantang, Pujon, dan Kebobang di Kecamatan Wonosari.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Malang Adi Purwanto mengatakan, pemerintah menyediakan layanan kesehatan berkesinambungan (LKB) yang sasarannya untuk seluruh kelompok berisiko tinggi. Tujuannya untuk mencegah penularan penyakit yang masih belum ditemukan obatnya ini. "ODHA di Malang sebanyak 830 orang," katanya.

Untuk menjangkai kelompok bersiko tinggi, KPA bekerja sama dengan kelompok masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat melakukan pendidikan pencegahan dan penularan AIDS. Termasuk bekerja sama dengan PKK dan ibu rumah tangga. 

EKO WIDIANTO - TEMPO.COMalang

Sarang Lebah Diteliti untuk Mengobati HIV/AIDS




Propolis yang dihasilkan sarang lebah sedang diteliti kegunaannya untuk membantu penyembuhan penderita HIV. Produsen produk kesehatan yang berbasis lebah alami, PT Harmoni Dinamik Indonesia (HDI), mengujicobakan di salah satu rumah sakit di Bangka.

Manajer Senior Pengembangkan Bisnis dan Produk PT HDI Alva Paloma mengatakan propolis dihasilkan dari sarang lebah, seperti halnya madu, serbuk sari, dan royal jelly. "Masing-masing memiliki manfaat yang cukup unik," katanya saat ditemui di Solo, Sabtu, 7 Juni 2014.

Propolis merupakan lapisan lilin yang terdapat di sekeliling sarang lebah. Lapisan itu berfungsi mengadang mikroorganisme yang mencoba masuk ke sarang. "Hal itu membuat sarang lebah selalu steril," ujar Alva.

Perusahaannya sudah cukup lama menggunakan propolis sebagai bahan baku salah satu produknya. Produk tersebut berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh. "Sudah terbukti efektif digunakan sebagai komplementer pengobatan demam berdarah," tuturnya.

Saat ini pihaknya tengah menguji coba produk herbal itu untuk membantu pengobatan penderita HIV/AIDS. Uji coba dilakukan dengan menggandeng salah satu rumah sakit di daerah Bangka. "Uji coba juga sudah mendapat persetujuan komisi etik rumah sakit tersebut," kata Alva.

Dia mengatakan propolis diharapkan bisa mendongkrak kadar CD4 dalam darah penderita HIV/AIDS. Dengan demikian, daya tahan tubuh bisa terjaga seperti layaknya orang sehat. Hanya saja, penggunaan propolis tetap harus dibarengi dengan obat-obatan medis. "Sebab, propolis sifatnya hanya komplementer atau melengkapi," ujarnya.

Sayangnya, dia masih belum bisa menyebut hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut. Dia mengatakan penelitiannya baru bisa dipublikasikan satu tahun mendatang. "Kami juga akan memperluas penelitian di Surabaya dengan menggandeng rumah sakit setempat," tuturnya.

Salah satu dokter dari RSPAD Gatot Soebroto, Letnan Kolonel Bagus Sulistyo Budhi, mengatakan pihaknya sudah pernah mengujicobakan penggunaan propolis pada pasien demam berdarah. "Hasilnya cukup efektif," katanya.

Menurut Bagus, pasien yang mengkonsumsi ekstrak propolis bisa keluar dari rumah sakit dua hari lebih cepat dibanding yang tidak mengkonsumsinya. "Kadar trombosit dalam darah juga meningkat cukup cepat," katanya.

AHMAD RAFIQ - TEMPO.COSurakarta

Monday, 16 June 2014

SUFA, Strategi Pengobatan ODHA

Saat ini pemerintah Indonesia dengan motor Kementerian Kesehatan sedang menjalankan sebuah proyek percontohan yang diberi nama SUFA (Strategic Use of ARV). Ini adalah sebuah proyek percontohan guna memutus mata rantai penularan HIV dengan strategi memberikan pengobatan ARV kepada setiap ODHA tanpa melihat angka CD4. Sebelumnya, ODHA baru disarankan memulai terapi ARV jika angka CD4 berada dibawah angka 350.
Program ini mempunyai landasan ilmiah yang kuat. Dalam sebuah riset yang diterbitkan di Jurnal Lancet dan kemudian dikenal dengan nama HATIP 052, didapati fakta bahwa dengan pengobatan ARV yang termonitor pada ODHA mampu menurunkan tingkat penularan sampai dengan sebesar 96%. Ini jelas merupakan sebuah langkah maju dan menciptakan peluang emas ditengah sulitnya kita menyukseskan program penggunaan kondom konsisten pada kelompok populasi kunci.
Strategi SUFA ini kemudian dikuatkan oleh sebuah Surat Edaran Menteri Kesehatan nomer 129 tahun 2013 tentang Pelaksanaan Pengendalian HIV-AIDS dan Penyakit Menular Seksual. Secara mudahnya, strategi yang dijalankan mencakup ekspansi tes HIV sehingga mampu mendiagnosa jumlah ODHA secara maksimal serta kemudian memberikan pengobatan ARV bagi setiap ODHA yang terdiagnosa.
Dalam surat edaran ini, tes HIV akan dianjurkan kepada ibu hamil di daerah dengan prevalensi HIV tinggi, pasien IMS, pasangan ODHA, pasien TB, pasien hepatitis dan warga binaan lapas.
Inisiasi ARV pun dilakukan dini tanpa melihat tingkat CD4 pasien. Ini khususnya bagi ibu hamil, pasien ko infeksi TB, Lelaki Seks dengan Lelaki, pasien koninfeksi Hepatitis B dan C, Perempuan Pekerja Seks, Pengguna Narkotika Suntik, ODHA yang pasangan tetapnya memiliki status HIV – dan tidak menggunakan kondom secara konsisten.
Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan alat tes HIV dan ARV, kementerian kesehatan masih terus berkomitment menyediakan subsidinya sehingga tes HIV dan ARV bisa didapatkan secara gratis. Untuk meningkatkan kepatuhan, pemerintah juga telah memulai pengadaan obat ARV fixed dose combination sehingga ODHA cukup meminum satu pill satu kali sehari. Jelas ini lebih praktis menginggat sebelumnya ODHA harus meminum pil ARV dengan jumlah lebih banyak sehingga kadang ini menyulitkan dalam menjaga kepatuhan minum obat.
Satu tantangan terbesar yang masih ada dalam program ini adalah masih sangat terbatasnya subsidi bagi tes Viral Load yang mestinya digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan terapi ARV. Banyak daerah di Indonesia yang tidak mempunyai akses terhadap jenis tes ini dan bagi mereka pun yang mempunyai akses, kerap kali biayanya yang lebih dari 1 juta untuk sekali tes ini tidak terjangkau oleh mayoritas ODHA.
JKN menjadi salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan sehingga akses ODHA ke tes Viral Load bisa ditanggung oleh jaminan pembiayaan ini. Keberhasilan program ini akan cukup menentukan keberhasilan kita dalam upaya menurunkan tingkat kesakitan dan kematian akibat AIDS serta mengendalikan laju epidami AIDS di Indonesia

source: www.odhaberhaksehat.org

Kisah penderita Hiv dan Aids

Hentikan AIDS. Jaga Janjinya – Akses Universal dan Hak Asasi Manusia
aids-ribbon
Jika waktu bisa kembali ke masa lalu. Saya ingin sekali melihat terakhir kali wajah ayah saya sebelum meninggal. Dia adalah pahlawan bagi saya. Saya inginmeminta maaf kepadanya. Begitulah ungkapan TPI Boyo, salah seorang pengidap HIV Aids saat ditemui Global kemarin. Seperti juga dengan kondisi orang yangsehat. Boyo, begitu ia akrab disapa, fisiknya masih kelihatan sehat dan bugar. Tapi di balik itu, tersimpan sebuah rahasia Tuhan yang tak bisa ia hindari.
Kematian.
Boyo mengisahkan, sudah hampir lima tahun ini tubuhnya digerogoti virus HIV yang sampai kini belum ada obatnya.”Kalau Tuhan memutar waktu ke belakang, sayaingin melihat ayah saya terakhir kalinya. Tapi, itu tidak mungkin. Saat ini yang bisa saya lakukan adalah bagaimana bisa berbuat baik kepada orang lain,”ucapnya dengan suara yang tegas.Kondisi keluarga yang mengalami masalah di saat dirinya masih duduk di bangku sekolah membawa Boyo ke dunia yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia terlibat ke dalam dunia hitam. Awalnya hanya sekedar mencoba, selanjutnya ketagihan mengkonsumsi narkoba. “Awalnya sih hanya ingin menghilangkan rasa kesal saja. Tapi malah ketagihan. Dari mulai konsumsi ganja sampai kemudian ke putaw. Pingin melepaskan diri saja dari masalah yang ada saat itu,” jelas Boyo mengenang masa lalunya.
Pindah ke Bandung
Selesai menyiapkan sekolahnya di Medan, Boyo pun kemudian pindah ke Bandung. Di kota kembang ini, kehidupan yang dialaminya justru bertambah. Pergaulan bebas ala anak muda Bandung menyeretnya ke dalam dunia hitam yang lebih dalam. Ia sudah ketergantungan dengan barang haram ini. Perkenalannya dengan seorang model, sebut saja namanya DV, yang sekarang ini menjadi salah seorang artis papan atas Indonesia. Membuat dirinya mulai kenal dengan jarum suntik. Dari biasanya yang hanya mengkonsumsi narkoba dengan menghisap, kemudian beralih ke suntik.
“Nggak usah disebutkan siapa dia. Saat ini sudah jadi artis. Di Bandung keadaan saya bertambah gawat. Sampai kemudian saya dibawa pulang kembali oleh ayah. Bahkan kuliahpun saya tak tamat,” paparnya. Sebelumnya, sang ayah tidak mengetahui jika kondisinya semakin memprihatinkan. Hingga pada suatu hari, ayahnya ingin memberikan kejutan dengan datang diam-diam di kost yang disewanya. Namun yang dilihat sang ayah, bukan Boyo yang sedang membaca buku kuliah. Tapi, sebuah kamar kosong yang sudah tak ada isinya lagi.
Saat membuka pintu kost, Boyo melihat sang ayah duduk terpaku di tempat tidurnya. Tak ada kata-kata, yang ada hanya linangan air mata.”Saya nggak tahu kalau ayah saya datang dari Medan. Semua yang ada di kamar sudah saya jual semua untuk beli narkoba, termasuk sebuah mobil Escudo,” kenangnya.
Masuk Rehabilitasi, Jual Gas dan Blender
Sekitar tahun 1999, setiba di Medan, ia masuk pusat rehabilitasi. Hanya tiga bulan ia mampu bertahan.”Di Medan saya kuliah lagi di UMSU. Tapi itupun nggaksampai selesai. Sekitar tiga bulan saya berhenti mengkonsumsi narkoba,” ujar anak bungsu dari tujuh bersaudara ini.
Pada tahun itu, ia sampai enam kali bolak-balik masuk rehabilitasi. Keluarganya sangat mencemaskan perilakunya. Sang ayah pun kemudian jatuh sakit. Tapi, dirinya masih belum bisa berubah total. Kebiasannya mengkonsumsi barang haram masih dilanjutkannya. Menginjak tahun 2001, sebuah peristiwa pahit menyadarkan dirinya. Sang ayah yang menderita kanker paru-paru stadium tiga dipanggil sang kuasa. Ia merasa terpukul. Dengan langkah yang tak punya arah, ia pulang ke rumah setelah beberapa bulan kabur dari rumah.
“Sebelum ayah meninggal, saya sempat kabur dari rumah. Karena nggak ada uang lagi, saya jual semua barang yang ada di rumah. Termasuk gas dan blender. Dari situlah, saya dihajar abang. Saya pun kabur. Tapi dari situ jugalah saya menyesal. Saya belum sempat melihat ayah terakhir kalinya,” seru Boyo.
“Apalagi kata abang, pesan ayah sebelum meninggal adalah agar semua saudaranya menjaga dirinya. Ayah ternyata masih sayang sama saya. Itu yang nggak akan pernah saya lupakan,” tambahnya. Dua tahun berikutnya, ia mencoba memeriksakan dirinya. Hasilnya? Darah yang ada di tubuhnya dinyatakan positif HIV.
Mendengar hal itu, keluarganya syok. Ia pun menyesali segala perbuatannya. Ada satu titik cahaya terang yang menyinari hatinya. Ia mencoba bangkit dan mencoba untuk terus bertahan.
Tahanan Pertama di Rutan Labuhan Deli yang Mengidap Aids
Sepak terjang kehidupan Boyo sepertinya penuh dengan lika-liku. Tak hanya pernah menjadi pecandu narkoba, tapi ia pernah kena tuduhan curanmor. Hinggadirinya harus mendekam di Penjara. Bahkan, ia tercatat sebagai tahanan pertama yang mengidap HIV Aids. Yang selanjutnya di bebaskan. “Sebenarnya masa tahanan masih dua bulan lagi. Di bulan keempat, penyakit saya ketahuan. Seisi rutan pun tahu kalau saya adalah pengidap Aids,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Boyo juga menjadi pasien pertama pengobatan terapi Metadon yang dilakukan di RS Adam Malik. Dengan melakukan terapi dan menjalankan hidup sehat, keadaan Boyo masih tetap segar bugar. “Banyak orang yang bertanya kepada saya. Kok bisa berumur panjang. Apa rahasianya? Saya hanya menjawab hidup sehat, berpikir positif dan berdoa. Itulah yang saya lakukan. Sampai sekarang ini setiap jam 10 pagi saya harus minum metadon, untuk memperkuat tubuh saya,” jelasnya.
Jangan Pernah Coba-coba Narkoba
Sejak di vonis positif HIV, Boyo mengalami perubahan 360 derajat. Ia tak pernah lagi bersinggungan dengan narkoba. Ia pun mulai aktif di organisasi yang bergerak di HIV Aids. Dari mulai di Center For Drugs User, Medan Plus sampai di Cordia Caritas Medan, tempatnya mengabdikan dirinya saat ini.
Dari sinilah ia ingin menyadarkan masyarakat, terutama generasi muda untuk menghindari narkoba. Selama berbincang-bincang dengannya, Boyo selalu mengatakan jangan pernah bersinggungan dengan narkoba. Sekali masuk, sulit untuk keluar. “Saya sebenarnya bersyukur dengan ini. Kalau tidak kena HIV Aids, mungkin nasib saya lebih buruk lagi. Buat semuanya, tolonglah jangan sekali-kali mencicipi narkoba. Itu barang sesat. Nggak akan pernah bisa membahagiakan. Hanya sesaat saja. Lakukan hal-hal terbaik,” jelasnya.
Diambil dari forumbebas.com
Dari kisah diatas jelas tercermin bahwasanya pengaruh penggunaan nartkotika dan obat-obat terlarang menjadi penyebab utama dari penderita HIV/AIDS, oleh karena itu kita sebagai generasi penerus bangsa ini mari katakan TIDAK untuk NARKOBA.
Artikel ini diposting dalam rangka memperingati hari AIDS seduania yang jatuh pada 1 desember setiap tahunnya.
Posted by  on December 1, 2009.



Saturday, 14 June 2014

Rekan ODHA, Yuk Berhenti Merokok!

Dengan tingkat kekebalan tubuh yang relatif lebih rentan dibanding orang yang tidak terinfeksi HIV, menjaga gaya hidup sehat itu sangat penting sekali. Salah satunya ya berhenti merokok.
Eh tahu ga, kalo penyakit penyerta Tubercolosis (Tb) dan penyakit paru-paru lainnya itu adalah penyebab terbesar ODHA meninggal dunia. Jadi tidak heran, jika ada pasien yang terkena Tb maka akan dianjurkan untuk tes HIV begitu juga sebaliknya jika kita positif HIV maka akan diminta melakukan tes Tb dan paru-paru. Jelas kan bahwa berhenti merokok itu penting bagi ODHA
Selain untuk kesehatan, berhenti merokok juga secara ekonomis lebih menguntungkan bagi diri kita. Coba bayangkan jika kita dalam sehari saja merokok 1 bungkus rokok yang harganya 10.000 rupiah, maka dalam setahun pengeluaran kita itu sebesar 3.650.000 rupiah. Besar kan? ga berasa ya kita habiskan setiap harinya hanya untuk asap. Jika alasannya bikin relax, banyak kok alternatif membuat relax lainnya yang sehat ga mesti merokok.
Jumlah yang lumayan kan yang bisa dihemat. Dengan duit itu, kita bisa secara teratur memeriksakan tes CD4 dan Viral Load. Kedua tes ini secara rutin sangat diperlukan untuk memastikan pengobatan ARV yang kita konsumsi itu bekerja dalam diri kita. Tes CD4 adalah tes yang digunakan untuk melihat tingkat kekebalan tubuh dengan memperhatikan sel darah putih kita. Sementara tes Viral Load atau dalam bahasa ilmiahnya dikenal dengan nama tes RNA kuantitatif adalah sebuah tes yang digunakan untuk mengukur banyaknya HIV dalam tubuh manusia. Selain itu, tes Viral Load juga digunakan untuk melihat apakah pengobatan ARV yang dikonsumsi ODHA itu bekerja dengan baik dalam dirinya atau tidak. Jadi misalnya orang yang sudah menjalankan terapi ARV dan ARV tersebut bekerja dengan baik, maka hasil tes Viral Loadnya atau jumlah HIV dalam darah akan rendah bahkan sampai tingkat tidak bisa dideteksi karena saking sedikitnya.
Tes CD4 umumnya dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan range harga berkisar 100.000 rupiah sampai dengan 150.000 rupiah. Untuk Tes Viral Load, umumnya dilakukan rutin setiap 1 tahun sekali dengan range harga 550.000 rupiah sampai dengan 1.250.000 di laboratorium swasta.
Dngan berhenti merokok juga bisa menyumbangkan duitnya kepada teman-teman ODHA lain yang membutuhkan tes-tes ini secara berkala. Masih banyak lho teman-teman kita yang kesusahan untuk membiayai tes-tes rutin ini. Beberapa harus menunggu program pemerintah (yang jarang dan terbatas) sehingga bisa mendapatkan akses layanan tes rutin ini secara gratis.
So, tunggu apa lagi. Stop merokok yuk.. selain tambah sehat, kita bisa bantu rekan-rekan ODHA lain yang membutuhkan!

source: www.odhaberhaksehat.org

Friday, 13 June 2014

Kini ODHA Bisa Menikah dan Memiliki Anak

Tahukah kalian, Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1987 sampai dengan tahun 2011, kasus AIDS telah tersebar di 368 (73,9%) dari 498 kabupaten/kota. Dan pada tahun 2011 tercatat kasus AIDS terbesar justru terjadi pada kelompok ibu rumah tangga (22%) dan 2,7% kasus AIDS ditularkan dari ibu HIV positif ke bayinyanya 2,53%.
Hal ini sangat memprihatinkan, mengingat Lebih dari 90% kasus anak yang terinfeksi HIV, ditularkan melalui proses penularan dari ibu ke anak. Virus HIV dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada anaknya selama kehamilan, pada saat persalinan, dan selama menyusui.
mommy-and-daddy-kissing-baby-small
Namun jangan takut untuk kemudian, sepertinya Orang yang hidup dengan HIV khususnya perempuan, memiliki harapan untuk juga punya kehidupan yang sama dengan perempuan lainnya. Saat ini, Indonesia sama halnya dengan semua orang dengan HIV di Indonesia, sudah menjalankan kebijakan yang diusung oleh lembaga kesehatan Dunia atau WHO tentang Pedoman Prevention HIV from Mother To Child Transmision (PMTCT), atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan PPIA, atau Program pencegahan penularan HIV dari Ibu ke Anak.
Berikut adalah kebijakan program PPIA yang dilaksanakan Direktorat Bina Kesehatan Ibu, Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan ibu Anak, kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
1.    Integrasi Program PPIA dalam Layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
2.    Kegiatan Komprehensif 4 Prong
3.    Penawaran Tes HIV dan Konseling
4.    Pemberian Obat Anti retroviral (ARV)
5.    Persalinan Aman, Perawatan Nifas dan KB Pasca Persalinan
6.    Pemberian Makanan Bayi
PPIA Dilaksanakan dalam 4 Prong di Layanan Primer, Sekunder, dan Tersier
PRONG 1 
Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi (Pencegahan primer).
Kegiatan : KIE tentang HIV-AIDS,Konseling dan Tes HIV
PRONG 2
Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan dengan HIV.
Kegiatan: LayananKB, Perencanaan kehamilan dan dukungan psikososial
PRONG 3 
Pencegahan terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya.
Kegiatan:
-    Pelayanan KIA Komprehensif
-    Layanan Tes HIV dan Konseling atas Inisiatif Petugas (TKIP)
-    Pemberian Terapi Antiretroviral
-    Persalinan yang aman
-    Pemberian Konseling HIV dan Pemberian Makanan Bagi Bayi dan Anak, Pemberian ARV Profilaksis
PRONG 4
Pemberian dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV beserta
anak dan keluarganya
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan adalah, Ibu, pasangan, dan keluarga perlu dikonseling terkait keputusan cara persalinan (normal/per vaginam atau seksio caesarea/SC). Tata laksana  persalinan HARUS memperhatikan kondisi fisik ibu berdasarkan penilaian oleh tenaga kesehatan. Dan Persalinan HARUS mengikuti Kewaspadaan Universal.

source: www.odhaberhaksehat.org

Thursday, 12 June 2014

Hari Tubercolosis Sedunia 2014

Tuberkulosis atau  TB  singkatan dari  bacillus  berbentuk tuberkel. Merupakan penyakit menular yang umum, dan dalam banyak kasus bersifat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria, umumnya Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis biasanya menyerang paru-paru, namun juga bisa berdampak pada bagian tubuh lainnya. Tuberkulosis menyebar melalui udara ketika seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin, atau menyebarkan butiran ludah mereka melalui udara. Infeksi TB umumnya bersifat asimtomatik (suatu penyakit ketika pasien tidak menyadari gejala apapun) dan laten. Namun hanya satu dari sepuluh kasus infeksi laten yang berkembang menjadi penyakit aktif. Bila Tuberkulosis tidak diobati maka lebih dari 50% orang yang terinfeksi bisa meninggal.
unduhan
Gejala klasik infeksi TB aktif yaitu batuk kronis dgn bercak darah  sputum atau dahak, demam, berkeringat di malam hari, & berat badan turun. Dahulu TB disebut penyakit “konsumsi” karena orang-orang yang terinfeksi biasanya mengalami kemerosotan berat badan. Infeksi pada organ lain menimbulkan gejala yang bermacam-macam. Diagnosis TB aktif bergantung pada hasil radiologi  (biasanya melalui sinar-X dada) serta pemeriksaan mikroskopis dan pembuatan kultur mikrobiologis cairan tubuh.

Sementara itu, diagnosis TB laten bergantung pada tes tuberkulin kulit/tuberculin skin test (TST) dan tes darah. Pengobatan sulit dilakukan dan memerlukan pemberian banyak macam antibiotik dalam jangka waktu lama. Orang-orang yang melakukan kontak juga harus menjalani tes penapisan dan diobati bila perlu. Resistensi antibiotik merupakan masalah yang bertambah besar pada infeksi tuberkulosis resisten multi-obat (TB MDR).
Untuk mencegah TB, semua orang harus menjalani tes penapisan penyakit tersebut dan mendapatkan vaksinasi basil Calmette–Guérin. Para ahli percaya bahwa sepertiga populasi dunia telah terinfeksi oleh M. tuberculosis, dan infeksi baru terjadi dengan kecepatan satu orang per satu detik. Pada tahun 2007, diperkirakan ada 13,7 juta kasus kronis yang aktif di tingkat global. Pada tahun 2010, diperkirakan terjadi pertambahan kasus baru sebanyak 8.8 juta kasus, dan 1,5 juta kematian yang mayoritas terjadi di negara berkembang. Angka mutlak kasus Tuberkulosis mulai menurun semenjak tahun 2006, sementara kasus baru mulai menurun sejak tahun 2002.
Tuberkulosis tidak tersebar secara merata di seluruh dunia. Dari populasi di berbagai negara di Asia dan Afrika yang melakukan tes tuberkulin, 80%-nya menunjukkan hasil positif, sementara di Amerika Serikat, hanya 5–10% saja yang menunjukkan hasil positif. Masyarakat di dunia berkembang semakin banyak yang menderita Tuberkulosis karena kekebalan tubuh mereka yang lemah. Biasanya, mereka mengidap Tuberkulosis akibat terinfeksi virus HIV dan berkembang menjadi AIDS. Pada tahun 2014 Indonesia menjadi peringkat-4 dunia dengan pengidap TB terbanyak ke 4.
Perkembangan epidemi Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Indonesia termasuk yang tercepat di kawasan Asia. Meskipun secara Nasional angka prevalensinya masih termasuk rendah, diperkirakan pada tahun 2009 sekitar 0,2% pada orang dewasa. Dengan estimasi ini maka pada tahun 2009 di Indonesia diperkirakan terdapat 142.187 (97652 – 187.029) Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Penggunaan jarum suntik merupakan cara transmisi HIV yang terbanyak (53%) diikuti dengan transmisi heteroseksual (42%)
Salah satu masalah dalam epidemiologi HIV di Indonesia adalah variasi antar wilayah,  baik dalam hal jumlah kasus maupun faktor-faktor yang mempengaruhi. Epidemi HIV di Indonesia berada pada kondisi epidemi terkonsentrasi dengan potensi menjadi epidemi meluas pada beberapa Provinsi. Diperkirakan sepertiga dari 40 juta ODHA di seluruh dunia terinfeksi oleh Tuberkulosis (TB). Di Asia Tenggara sekitar 40-50% dari sekitar 6 juta orang ODHA dewasa memiliki kemungkinan terinfeksi TB.
Orang dengan HIV/AIDS mempunyai risiko menjadi sakit TB sebesar enam kali lebih besar dari pada mereka yang tanpa HIV. Tingkat kematian ODHA dengan TB mencapai 20% sedangkan pada TB tanpa HIV hanya 5%.  Di Indonesia, TB merupakan tantangan bagi pengendalian Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). karena merupakan infeksi oportunistik terbanyak (49%) pada ODHA. Sebaliknya diperkirakan sekitar 3% pasien TB  dengan status HIV positif.
Standing-Banner-TBDay-2014Pada tingkat Dunia, berbagai upaya pengendalian dilakukan untuk merespons dampak ko-infeksi TB-HIV bagi kedua program. World Health Organization bekerja sama dengan Stop TB Partnership telah mengembangkan pedoman. Pedoman untuk pelaksanaan kegiatan kolaborasi TB-HIV yang disusun berdasarkan tingkat prevalens HIV. Di banyak negara yang telah melaksanakan kegiatan perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) HIV, kegiatan kolaborasi ini dimulai sebagai bagian dari upaya pengendalian TB dan upaya meningkatkan keberhasilan Program Pengendalian AIDS.
Di Indonesia, kegiatan kolaborasi TB-HIV mulai diujicobakan di Provinsi DKI Jakarta (2004), di Kabupaten Merauke Provinsi Papua dan di Kota Denpasar Provinsi Bali (2006) yang merupakan wilayah dengan epidemi HIV AIDS yang terkonsentrasi. Kegiatan ini dikembangkan ke 9 Provinsi lainnya (2008) dan pada tahun 2010 diperluas ke 12 Provinsi. Ke-12 Provinsi tersebut Yakni Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Papua Barat dan Papua. Sedangkan sosialisasi kegiatan kolaborasi TB-HIV kepada stakeholder telah dilakukan di 33 Provinsi. Pada tahun 2012 akan dilakukan inisiasi kegiatan pemberian Isoniazid Preventive Therapy (IPT) pada ODHA di 2 Provinsi diantaranya DKI Jakarta dan Jawa Barat di 4 fasilitas pelayanan kesehatan Yaitu Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit Persahabatan, Rumah Sakit Hasan Sadikin dan Rumah Sakit Marzuki Mahdi.

source: www.odhaberhaksehat.org

Wednesday, 11 June 2014

Kumpulan Puisi di Hari Aids Sedunia

Sebagaimana kita ketahui bahwa hari AIDS sedunia (HAS) oleh WHO diperingati setiap tanggal 1 Desember. Pada tahun 2011, statistik WHO menunjukkan epidemi HIV-AIDS di seluruh dunia telah memakan korban 1,7 juta orang meninggal dengan AIDS, 2,5 juta yang baru terinfeksi HIV dan 34 juta orang yang hidup dengan HIV. Memperingati hari AIDS sedunia merupakan penghormatan kita terhadap orang-orang yang terinfeksi HIV. Beberapa hal yang biasa dilakukan dalam memperingati HAS contohnya adalah program Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO yang membuat acara kompetisi cipta puisi dikalangan pelajar. Kumpulan puisi HIV-AIDS berikut dibuat oleh para pelajar di Indonesia dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia yang dikumpulkan dalam bentuk buku saku yang berjudul “100 Puisi Pelajar Indonesia Memperingati Hari AIDS Sedunia 2010″.
10 Puisi HIV Terbaik
  1. Puisi – Memori Kekelaman
  2. Puisi – Menyongsong Hari Esok
  3. Puisi – Siapa Peduli Aku
  4. Puisi – Inilah AIDS
  5. Puisi – Kami adalah Sahabat
  6. Puisi – Sesal yang Kubawa Mati
  7. Puisi – Menghitung Hari
  8. Puisi – Hati dan Harapan
  9. Puisi – Pesanku Untuk Sahabat
  10. Puisi – HIV dan AIDS Sebuah Momok Kehidupan
source: http://www.jevuska.com/2010/12/01/puisi-hiv/

Tuesday, 10 June 2014

Sudahkan Kamu Test HIV?

Apa sih Test HIV Itu?
Tes HIV memberi tahu kita apakah kita terinfeksi HIV, virus penyebab AIDS. Kebanyakan tes ini mencari antibodi terhadap HIV. Antibodi adalah protein yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuhuntuk menyerang kuman tertentu. Antibodi terhadap semua kuman berbeda, jadi bila ditemukan antibodi terhadap HIV dalam darah kita, artinya kita terinfeksi HIV. Ada juga jenis tes lain yang mencari tanda bahwa virus sendiri ada di dalam darah, tetapi tes macam ini belum tersedia di Indonesia.

Bagaimana Proses Tes HIV?
Tes yang paling lazim untuk HIV adalah tes darah. Sekarang juga ada tes yang dapat mencari antibodi dalam air seni, atau dalam cairan yang diambil dari dalam mulut (bukan air liur), digesekkan dari dalam pipi. Tes yang sering dipakai sekarang disebut tes cepat atau rapid test, yang mampu menyediakan hasil dalam 20-30 menit setelah contoh darah atau cairan lain diambil. Untuk tes darah, contoh darah kita diambil dengan jarum suntik sekali pakai, atau tetes darah diambil setelah jari kita ditusuk dengan jarum sekali pakai. Jika hasil tes pertama ‘reaktif’ (positif), hal ini menunjukkan kemungkinan kita terinfeksi HIV. Tetapi tes harus diulang sekali (jika kita mempunyai gejala penyakit HIV) atau dua kali dengan cara berbeda untuk memastikan hasilnya benar, dan dapat dinyatakan ‘positif’. Ini biasanya dilakukan oleh tempat tes tanpa kita diketahui. Hasil juga dapat dilaporkan sebagai ‘non-reaktif’ (negatif). Kadang laboratorium juga melaporkan angka non-reaktif (mis. non-reaktif, 0,34).  Angka ini tidak ada relevansi sama sekali dan sebaiknya diabaikan. Sebelum darah diambil, kita wajib diberi konseling oleh seorang konselor yang terlatih. Di antara yang lain, konseling ini akan memberi informasi dasar tentang HIV dan AIDS. Bgmn Manfaat dan kerugian kita mengetahui apakah kita terinfeksi, dan bagaimana kita akan bereaksi jika nanti hasilnya positif Setelah itu, kita diminta menyetujui sebelum darah diambil (sering disebut informed consent). Kita juga wajib diberi konseling lagi oleh konselor yang sama saat hasilnya sudah ada. Hasilnya hanya boleh diberikan pada kita, dan tidak boleh diberikan pada orang lain tanpa persetujuan kita. Tempat melaksanakan tes bertanggung jawab untuk menjamin nama kita dan hasil tes tidak diketahui orang lain. Namun, jika kita di bawah umur, orang tua atau wali kita boleh mewakili kita. Sayangnya, di Indonesia, tidak jelas berapa sebenarnya usia ‘di bawah umur’. Hasil tes tidak wajib dilaporkan ke pemerintah. Ada beberapa tempat tes yang tidak mewajibkan kita memberi nama atau identifikasi. Ini disebut tes tanpa nama atau anonim.

Bagaimana Kita Dapat Dites?
Semua rumah sakit rujukan AIDS (hampir 200 di seluruh Indonesia) dan satelitnya menyediakan layanan tes HIV. Sering kali di klinik disebut VCT (voluntary counseling and testing). Daftar rumah sakit rujukan dapat dilihat di banyak situs situs www.spiritia.or.id atau www.aidsindonesia.or.id Selain itu ada beberapa klinik lain yang menyediakan tes HIV, dan tes juga dapat dilakukan di beberapa laboratorium swasta. walau sering kali lab swasta tersebut tidak menyediakan konseling, pastikan kita mendapat informasinya. Tes HIV di RS kadang disediakan tanpa biaya, tetapi biasa harganya sesuai dgn kebijakan RS.

Siapa Sebaiknya Dites? Kita dapat terinfeksi HIV tanpa mengetahuinya. Kita mungkin tidak merasa sakit atau mempunyai keluhan. Tetapi kita tetap bisa menularkan orang lain. Siapa pun yang aktif secara seksual atau memakai jarum suntik secara bergantian sebaiknya tes HIV secara berkala.

Kapan Sebaiknya Kita Dites?
Jika kita menjadi terinfeksi HIV, biasanya sistem kekebalan tubuh baru membentuk antibodi tiga minggu hingga tiga bulan setelah kita terpajan. Masa ini disebut masa jendela. Jadi, jika kita merasa kita terpajan, atau melakukan perilaku berisiko tertular HIV, kita sebaiknya menunggu tiga bulan setelah peristiwa berisiko sebelum kita dites. Kita juga dapat langsung tes, dan mengulangi tes tiga bulan setelah peristiwa (bukan setelah tes pertama). Selama masa jendela ini, tes antibodi akan menunjukkan hasil non-reaktif (negatif), tetapi walaupun begitu, jika kita sudah terinfeksi kita dapat menularkan orang lain.Sebetulnya, selama masa awal infeksi ini, daya menular kita paling tinggi sehingga kita lebih mungkin menularkan orang lain kalau kita berperilaku berisiko. Menurut pedoman Kemenkes RI, hasil tes HIV yang non-reaktif tiga bulan atau lebih setelah peristiwa berisiko berarti kita tidak terinfeksi HIV, atau dalam kata lain, kita HIV-negatif.
Ada Tes yang Memberi Hasil Lebih Cepat? Tes viral load mencari potongan genetik HIV. Bibit ini terbentuk sebelum sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi. Tes viral load tidak biasa dipakai untuk menentukan apakah seseorang terinfeksi, karena tes tersebut jauh lebih mahal dibandingkan tes antibodi. Selain itu, tingkat hasil yang salah lebih tinggi, sehingga tes viral load ini tidak disetujui oleh Kemenkes sebagai alat diagnosis HIV untuk orang dewasa di Indonesia.

Apa Artinya Jika Kita Positif?
Hasil positif atau reaktif berarti kita mempunyai antibodi terhadap HIV, dan itu berarti kita terinfeksi HIV. Hasil tes seharusnya disampaikan kepada kita oleh konselor, yang akan memberi tahu kita apa dampak pada kehidupan kita, dan bagaimana kita dapat memperoleh layanan dan dukungan kesehatan serta emosional. Hasil positif bukan berarti kita AIDS. Banyak orang yang positif tetap sehat untuk beberapa tahun, dan tidak tentu langsung perlu memakai obat apa pun. Penerimaan diagnosis HIV sering kali sangat sulit. Namun kita tidak sendiri, dan bertemu dengan teman senasib dapat sangat membantu pada saat itu. Di beberapa daerah, teman-teman Odha sudah membentuk kelompok dukungan sebaya (KDS) untuk memudahkan proses ini. Minta dirujuk pada KDS terdekat oleh petugas klinik VCT. Atau kami juga bisa menjadi sahabat kalian saat kalian mengetahui status HIV.

Apakah Kita Dapat Mempercayai Hasil Tes?
Hasil tes antibodi untuk HIV adalah benar untuk lebih dari 99,5% tes. Sebelum kita diberi hasil positif, tes diulang sebagai konfirmasi. Ada beberapa keadaan khusus yang dapat memberi hasil yang salah atau tidak jelas. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang HIV-positif dapat menunjukkan hasil positif untuk beberapa bulan karena antibodi ibu dialihkan ke bayi yang baru lahir. Walaupun bayi sebenarnya tidak terinfeksi, dia mempunyai antibodi terhadap HIV dan hasil tes dapat reaktif sampai dia berusia 18 bulan. Tes lain, misalnya tes viral load, harus dipakai jika hasil yang benar dibutuhkan lebih cepat. Orang yang baru terinfeksi dapat menunjukkan hasil negatif (non-reaktif) jika dia dites terlalu dini (dalam masa jendela) sejak terinfeksi dengan HIV. Ibu hamil mungkin menunjukkan hasil palsu atau tidak jelas akibat perubahan pada sistem kekebalan tubuhnya.
Tes HIV biasanya mencari antibodi terhadap HIV dalam darah atau cairan tubuh lain. Bila kita terinfeksi HIV, sistem kekebalan tubuh kita membuat antibodi ini untuk melawan HIV. Biasanya dibutuhkan tiga minggu hingga tiga bulan untuk membentuk antibodi tersebut. Selama masa jendela ini, tes kita tidak akan menunjukkan hasil positif walaupun kita terinfeksi. Tes HIV biasa juga tidak memberi hasil yang benar untuk bayi yang baru lahir pada ibu yang terinfeksi HIV. Hasil tes yang positif (reaktif) berarti kita terinfeksi HIV, tetapi tidak berarti kita AIDS. Jika kita memang HIV-positif, sebaiknya kita belajar tentang HIV, dan mempertimbangkan bagaimana kita dapat melindungi kesehatan kita. Sudahkah kamu cek HIV?

Monday, 9 June 2014

International Day Against Homophobia and Transphobia 2014

IDAHO
IDAHO adalah International Day Against Homophobia and Transphobia atau Hari Menolak Homophobia dan Transphobia. IDAHO tiap tahunnya diselenggarakan pada tanggal 17 Mei.  #IDAHO2014 merupakan suatu kesempatan untuk dapat melawan stigma & diskriminasi pada LGBT di seluruh Dunia termasuk Indonesia.
Ini bukanlah suatu perayaan individu/kelompok, namun merupakan perayaan bersama Untuk melawan Stigma & Diskriminasi. Hari ini diperingati bersama dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan hak-hak LGBT sebagai manusia dan mengingatkan kembali kepada semua orang, bahwa selama ini banyak sekali terjadi pelanggaran HAM kepada LGBT yang dilakukan oleh begitu banyak pihak, unsur masyarakat.

Kampanye selama setahun yang memuncak dalam International Day Against Homophobia yang pertama pada 17 Mei 17 2005. 24,000 Orang terlibat aktif, juga ikut Serta banyak organisasi yang Fokus pada isu LGBTIQ. kegiatan Kampanye IDAHO ini berlangsung di banyak negara, termasuk LGBT events pertama di Congo, China, and Bulgaria. Di tahun 2009 transphobia  (Kekerasan dan Diskriminasi pada Transgender)  dimasukan menjadi bagian dari kampanye.
Pada 2012 , beberapa negara telah mengeluarkan undang-undang di tingkat federal yang meliputi pengakuan hukum penuh untuk LGBT pasangan seperti perkawinan, adopsi, warisan, dan hak asuransi, meskipun upaya dari gerakan 17 Mei. Namun, Beberapa negara juga terus mengkriminalisasi homoseksualitas atau identitas transgender dan menganiaya orang-orang LGBT, dan kekerasan tersebut terus berlanjut. LGBT di negara-negara ini mungkin rentan terhadap kekerasan negara atau kejahatan kemanusiaan dan organisasi LGBT atau gerakan mungkin rentan terhadap pelecehan yang disponsori negara.
Sebuah laporan yang dikeluarkan ILGA untuk International Day Against Homophobia dan Transphobia pada tahun 2009 menegaskan bahwa 76 negara masih menganggap hubungan sesama jenis ilegal. Di tujuh negara tersebut, tindakan homoseksual dapat dihukum mati. Di hampir semua negara, hukum transphobic membatasi kebebasan untuk bertindak dengan cara yang tidak sesuai dengan peran dan harapan yang secara kultural ditentukan berdasarkan jenis kelamin seseorang saat lahir. Sangat dilematis dan menyedihkan. Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai sesama manusia yang sama punya hak untuk hidup di masyarakat?
Untuk memberikan dukungan kepadateman teman dan sahabat kita, ada banyak hal Positif dan sederhana yang bisa kita lakukan untuk memberikan support kepada Sahabat LGBTIQ. Contohnya :
1.    Tidak memandang Waria dan Gay Sebagai Penyakit sosial
2.    Tidak menjadikan Waria dan Gay sebagai bahan olok olokan, baik di Masyarakat maupun di Media Massa
3.    Menghargai Keberagaman Identitas Seksual yang beragam di Indonesia
3 hal simple tersebut bisa kita lakukan untuk menghargai teman2 LGBTIQ yg juga bagian dari Masyarakat Indonesia. Semangat IDAHO di Indonesia Juga dirasakan oleh ODHA di banyak Organisasi di seluruh wilayah di Indonesia.

Sunday, 8 June 2014

Stop Diskriminasi ODHA!

Perlu diketahui bahwa virus HIV berkembang dengan sangat cepat dan penyebarannya terkadang memunculkan hasil yang tidak diduga-duga sebelumnya. Seseorang tidak bisa menghakimi orang lain sebagai pasien AIDS dengan mengucilkan hidup si pasien.
Tingkat sensitifitas hidup penderita AIDS sangat genting apabila disaat seperti ini, walaupun pada dasarnya kesempatan hidup mereka minim sekali. Hal yang terpenting lainnya adalah dengan tidak menganggap pasien AIDS sebagai orang asing, atau bahkan orang terbuang.
Publik sering menganggap bahwa AIDS adalah penyakit kotor, namun tidak bagi pandangan dunia kesehatan modern saat ini. Didukung dengan tingkat pengetahuan yang luas, maka tingkat persentase untuk memberikan kesempatan hidup lebih lama lagi bagi pasien AIDS akan terus-menerus meningkat.
Baru-baru ini juga ilmuwan Amerika secara tidang sengaja menemukan vaksin yang efektif untuk menghentikan regenerasi virus HIV didalam tubuh manusia, sehingga sistem kekebalan tubuh akan berfungsi normal kembali. Namun, disamping itu, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk regulasi vaksin tersebut sehingga benar-benar menjadi obat mujarab bagi para pasien AIDS. Tentu informasi ini akan menjadi angin segar bagi para pasien AIDS, memberikan mereka semangat hidup baru yang akan berkelanjutan secara terus-menerus, membuat mereka tidak canggung dalam bersosialisasi dan memantapkan cita-cita mereka untuk masa depan.
Seringnya publik mengucilkan kehidupan pasien AIDS adalah dikarenakan pemikiran pendek dan menganggap pasien AIDS tidak berhak hidup.
Stigma dan Diskriminasi diantara kalangan akan terus-menerus marak jika tidak diimbangi dengan informasi dan pengetahuan yang memadai. Stigma negatif selalu dijadikan senjata utama untuk mengucilkan para penderita AIDS, hal tersebutlah yang membuat jurang diskriminasi semakin dalam. Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan kerjasama beberapa pihak terkait, baik dari kalangan medis maupun dari kalangan pemerhati pasien AIDS. Memperbaharui sikap dan menjauhi opini negatif akan pasien AIDS akan menjadi obat mujarab tersendiri bagi mereka.
Para pasien AIDS layak untuk hidup normal dan merasakan hidup sebagaimana mestinya, bukan faktor umur yang menjadikan mereka sulit bergaul, namun dikarenakan faktor lingkungan yang selalu beranggapan miring tentang mereka. Maka dari itu, mulai gerakan STOP mengucilkan ODHA, karena mereka adalah manusia yang sama seperti kita.

source: www.odhaberhaksehat.org

Thursday, 5 June 2014

ESSE, Prinsip Penularan HIV

Dalam penularan infeksi HIV dikenal ada istilah yang disebut dengan ESSE yaitu prinsip dimana dimungkinkan untuk terjadi penularan HIV dari satu manusia ke manusia lainnya.
ESSE ini adalah kepanjangan dari Exit, Survive, Sufficient dan Enter. Dalam bahasa indonesia bisa diartikan: Jalan keluar virus, Virus yang hidup, Kandungan VIrus yang cukup untuk menginkubasi serta adanya jalur masuk virus ke tubuh seseorang. HIV hanya bisa menular jika empat prinsip ini dipenuhi semua dan tidak bisa menular jika hanya salah satu atau sebagian prinsip terpenuhi.
E= Exit ini maksudnya ada jalan keluar bagi cairan tubuh yang mengandung HIV yang ada dalam tubuh seseorang keluar tubuh. Hal semacam ini misalnya jika terjadi luka atau keluarnya cairan tubuh yang mengandung HIV seperti ketika seseorang melakukan hubungan seksual. Bagi penularan melalui jarum suntik bisa diartikan karena ada darah yang tersisa di dalam jarum bekas dan kemudian masuk kedalam tubuh seseorang.
S= Survive ini maksudnya dari cairan tubuh yang keluar ini harus mengandung virus yang tetap bertahan hidup. HIV bila berada di luar tubuh inangnya (manusia) dia tidak akan bertahan hidup lama. Ini misalnya ketika cairan tubuh keluar di saat berenang atau berada dalam udara bebas lainnya. Prinsip Survive ini juga tidak terpenuhi bila diberitakan HIV dimasukkan dalam minuman soda atau makanan sebab asam lambung yang pekat akan membuat HIV ini tidak bertahan hidup.
S= Sufficient ini maksudnya kandungan HIV dalam cairan tubuh yang keluar dari orang yang terifeksi HIV harus ada dalam kandungan yang cukup. Jika jumlahnya sedikit, HIV tidak akan bisa menginkubasi tubuh manusia lainnya. Ini mengapa cairan keringan dan saliva (ludah) tidak bisa menularkan HIV.
Enter= Adanya jalur masuk di tubuh manusia yang memungkinkan kontak dengan cairan tubuh yang mengandung HIV. Ini mengapa penggunaan kondom serta pelicin kemudian penting sebab akan meminimalisir terjadinya perlukaan ketika terjadi kontak hubungan seksual.

source: www.odhaberhaksehat.org

Wednesday, 4 June 2014

Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Bagi ODHA

Mungkin bagi teman-teman yang berkecimpung dalam dunia program penanggulangan AIDS atau pun adalah seorang ODHA, tidak akan merasa asing lagi dengan apa yang namanya Kelompok Dukungan Sebaya atau yang di luar negeri dikenal dengan peer support group. Kelompok ini adalah sebuah kelompok yang mempunyai prinsip bahwa tujuan kelompok adalah mensupport setiap anggota kelompok dalam kehidupan keseharian mereka. Karena yang saya maksudkan ini adalah kelompok dukungan sebaya bagi ODHA (orang dengan HIV dan AIDS) maka jelas tujuan ini adalah membantu serta mendukung ODHA-ODHA yang tergabung di dalam kelompok didalam kehidupan keseharian mereka.

Konsep ini, menurut saya, diadopsi dari konsep dukungan bagi alkoholik atau pengguna narkotika yang dikenal dengan nama Alcoholic Anonymous dan Narcotic Anonymous. Prinsip utama dari kelompok ini adalah alkoholik membantu alkoholik lainnya, pengguna narkotika membantu pengguna narkotika lainnya. Mengapa hal ini diterapkan? karena dirasa, kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh alkoholik dan pengguna narkotika ini hanya bisa dipahami oleh sesama alkoholik dan pengguna narkotika yang punya atau pernah punya pengalaman yang sama dan mereka telah berhasil menjadi penyintas. oiy, penyintas adalah terjemahan dari Survivor. Dengan saling berbagi diantara anggota yang baru bergabung dengan anggota yang telah menjadi penyitas, diharapkan akan membawa kekuatan bagi individu-individu yang bergabung dan juga kepada kelompok itu. Empati menjadi kata kunci kenapa kelompok ini bisa berjalan.

Begitu pula yang ditemui dalam kelompok dukungan sebaya bagi ODHA. kelompok ini berupaya membantu ODHA-ODHA yang baru mengetahui statusnya, dengan bermodalkan empati dan bertujuan agar saling mengkuatkan serta menjadi wadah berbagi informasi terkait dengan perawatan dan pengobatan yang diperlukan oleh ODHA. Kelompok ini sangat dibutuhkan karena sejak seseorang di mengetahui jika dia diagnosa terinfeksi HIV, garis hidup dia kedepannya akan berubah. Dia akan mengalami hal-hal yang dihadapi setiap ODHA dimana stigma dan diskriminasi masih tinggi dimasyarakat, dikucilkan, dijauhi, di cemooh, dikeluarkan dari sekolah atau tempat kerja bahkan harus ditambah dengan kesulitan menjaga tingkat kesehatannya karena HIV terus merusak daya tahan tubuh orang yang terinfeksi HIV.
Dukungan moral dan semangat ini sangat dibutuhkan oleh ODHA sebab ketika dia tahu dirinya terinfeksi HIV maka muncul pergolakan batin besar dalam dirinya dimana dia akan dihadapkan dengan dirinya sendiri yang lalu memunculkan berbagai macam sikap seperti penyangkalan jika ia terinfeksi HIV, marah dan sedih. kelompok inilah yang diharapkan bisa mentransformasikan sikap-sikap ini menjadi sebuah sikap penerimaan diri sehingga ODHA tersebut bisa tetap sehat, tetap produktif dan yang paling penting adalah dia tidak merasa sendiri.

Sikap empati seperti inilah yang selama ini jarang mereka dapatkan dari orang-orang lain yang tidak terinfeksi HIV baik keluarganya sendiri, teman-temannya maupun masyarakat luas. Kelompok Dukungan Sebaya yang memainkan peran penting di awal-awal ini.
Setelah sikap penerimaan ini terbangun, kelompok dukungan sebaya kemudian menjadi sebuah wadah untuk berbagi akses. Baik akses informasi maupun akses rujukan layanan. Seorang ODHA baru umumnya merasa buta akan kondisi tubuhnya sendiri pasca dia terinfeksi HIV. untuk meminta informasi ke dokter pun kadang muncul keengganan selain dikarenakan masih sedikitnya dokter yang kompeten soal HIV, mahalnya biaya sampai sikap dokter dan pemberi layanan kesehatan sendiri yang kerap kali masih memunculkan stigma dan diskriminasi bagi ODHA tersebut. Di KDS, ODHA bisa berbagi informasi perawatan dan pengobatan serta saling memberikan support guna memotivasi agar tetap hidup sehat. 

KDS ini sekarang ada di seluruh wilayah Indonesia bahkan sampai dengan di kota/kabupaten. Ini adalah tempat pertama yang aman bagi ODHA guna meningkatkan penerimaan dirinya serta mempertahankan nyawanya dengan tetap hidup sehat. Kalo rekan-rekan ada yang mempunyai kenalan ODHA, jangan sungkan ya memberitahukannya agar ODHA tersebut mencari KDS terdekat.
Informasi lengkap tentang KDS bisa dilihat di www.spiritia.or.id

Aplikasi AIDS Digital

Lgo AIDS digitalSaat ini, kita yang ingin bertanya dimana bisa didapatkan layanan tes HIV, dimana bisa mengambil ARV, dimana ada layanan Infeksi Menular seksual dan layanan terkait AIDS lainnya dimudahkan dengan telah lahirnya aplikasi AIDS Digital. Aplikasi yang dibangung oleh komunitas ODHA dan diluncurkan secara resmi oleh Menteri Kesehatan bulan Oktober lalu, akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita mengenai dimana lokasi layanan HIV dan AIDS serta informasi dasar HIV tanpa kita harus malu bertanya pada orang lain.
AIDS DIGITAL adalah sebuah aplikasi berbasis telpon pintar yang menyediakan informasi terkait dengan HIV dan AIDS. Aplikasi ini dibangun dengan kemitraan bersama Kementrian Kesehatan dengan tujuan menyediakan ruang privat yang aman dan nyaman bagi penduduk usia muda untuk mengakses informasi terkait HIV dan AIDS tanpa stigma dan diskriminasi. Aplikasi ini telah secara resmi diluncurkan oleh Menteri Kesehatan RI pada tanggal 31 Oktober 2013 dengan dipayungi Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani oleh Sekjen Kementrian Kesehatan mewakili Kementrian Kesehatan dan IAC guna mendukung validitas data, perluasan kampanye dan promosi serta mendukung keberlangsungan aplikasi AIDS Digital ini.
Aplikasi AIDS DIGITAL adalah sebuah aplikasi mobile pertama program AIDS di Indonesia dan juga Asia Pacific yang secara khusus menyajikan informasi terkait lokasi layanan HIV dan AIDS yang tersebar guna mendekatkan akses kepada masyarakat serta menghilangkan hambatan stigma dan diskriminasi kepada informasi HIV dan AIDS. Aplikasi ini juga membanggakan karena dikembangkan langsung oleh ODHA serta komunitas terdampak AIDS lainnya. Aplikasi ini juga merefleksikan kemitraan setara dan strategis antara komunitas dengan pemerintah dalam upaya bersama-sama menghentikan dan membalikan laju epidemi AIDS di Indonesia.
Dalam aplikasi ini, kita bisa dapatkan informasi HIV 101 yang berisi informasi dasar dan akurat mengenai HIV dan AIDS, Informasi lokasi dimana bisa didapatkan layanan terkait HIV dan AIDS serta informasi lokasi lembaga baik pemerintah maupun non pemerintah yang bekerja bagi program penanggulangan AIDS di seluruh wilayah Indonesia.
Jenis informasi layanan terkait HIV dan AIDS yang ada dalam aplikasi AIDS Digital mencakup layanan tes HIV, jarum suntik steril, pencegahan orangtua ke anak, layanan obat ARV, kelompok dukungan ODHA, Methadone, RS Rujukan AIDS serta layanan Infeksi Menular Seksual.
Aplikasi ini dilengkapi dengan beberapa fitur diantaranya “layanan terdekat” yaitu fitur untuk mengetahu layanan terkait HIV dan AIDS yang lokasinya paling dekat dengan kita saat itu, lalu fitur suara pasien yang bertujuan menjadi sebuah jembatan bagi pasien dan penyedia layanan dalam menyediakan layanan yang berkualitas, fitur “telpon ke layanan” untuk mendapatkan informasi lebih rinci dari penyedia layanan serta membuat janji temu dengan dokter sampai dengan fitur berbagi di media jejaring sosial untuk meningkatkan pesan dari AIDS Digital secara viral.
AIDS DIGITAL tersedia dalam bahasa Indonesia dan bisa digunakan oleh telpon pintar dengan berbagai ragam sistem operasi seperti Blackberry, Andorid, IoS maupun Windows. Aplikasi AIDS DIGITAL bisa didownload secara gratis di Apple Store, Blackberry Application World, Google Play dan Windows Phone Market.
Bagi yang bukan pengguna telpon pintar, AIDS Digital juga bisa dilihat dalam versi web di alamat: www.aidsdigital.net
Jadi tunggu apa lagi, buruan unduh aplikasi AIDS Digital yukk

source: www.odhaberhaksehat.org